This is default featured slide 1 title

Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these sentences with your own descriptions.This theme is Bloggerized by Lasantha Bandara - Premiumbloggertemplates.com.

This is default featured slide 2 title

Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these sentences with your own descriptions.This theme is Bloggerized by Lasantha Bandara - Premiumbloggertemplates.com.

This is default featured slide 3 title

Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these sentences with your own descriptions.This theme is Bloggerized by Lasantha Bandara - Premiumbloggertemplates.com.

This is default featured slide 4 title

Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these sentences with your own descriptions.This theme is Bloggerized by Lasantha Bandara - Premiumbloggertemplates.com.

This is default featured slide 5 title

Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these sentences with your own descriptions.This theme is Bloggerized by Lasantha Bandara - Premiumbloggertemplates.com.

Usung Islam Nusantara, PBNU Helat Pertemuan Tokoh Islam Moderat Dunia



Sedikitnya ada  45 negara yang akan menghadiri “International Summit of The Moderate Islamic Leader” (ISOMIL) di Jakarta pada 9-11 Mei 2016.

“Alhamdulillah sudah ada kabar dari 45 negara yang mengonfirmasikan kehadirannya,” kata salah seorang penggagas ISOMIL, Wakil Ketua Umum Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU) Maksum Machfoedz, di Jakarta, Sabtu (30/4).

Ia menjelaskan bahwa ISOMIL adalah tindak lanjut dari Konferensi Tingkat Tinggi Luar Biasa Organisasi Kerjasama Islam (OKI) di Jakarta beberapa waktu lalu. “Kalau OKI itu para kepala negara atau kepala pemerintahan, sedangkan ISOMIL wadah pertemuan para pemimpin atau tokoh Islam moderat,” ujar Maksum.

Bahkan sejumlah utusan dari Maroko mengaku sudah tidak sabar ingin menghadiri acara itu. “Mereka ingin mendengar ceramah tentang Islam Nusantara sekaligus melihat implementasinya di Indonesia,” kata guru besar Fakultas Teknologi Pertanian Universitas Gadjah Mada itu.

ISOMIL akan dibuka Presiden Joko Widodo di Jakarta Convention Center, Senayan, Senin (9/5), dan ditutup oleh Wakil Presiden Jusuf Kalla di tempat yang sama keesokan harinya.

Kegiatan yang ditujukan sebagai bagian dari ikhtiar untuk mengatasi ancaman terorisme dan radikalisme itu akan menghadirkan sejumlah pembicara seperti Ketua Umum PBNU Said Aqil Siroj, Rais Aam PBNU Maruf Amin, Menko Polhukam Luhut Binsar Panjaitan, Menlu Retno L.P. Marsudi, Kepala BIN Sutiyoso, dan Ketua OJK Muliaman Hadad.

Juga ada Direktur Pusat Riset Asimetris dan Kajian Ancaman Universitas Pertahanan Nasional Swedia Dr Magnus Ranstrop, Pakar ISIS dari Universitas Wina Australia Dr Nico Prucha, mantan Grand Mufti Al Azhar Dr Syeikh Ali Gomaa, dan Presiden Liga Muhammadiyah Ulama Maroko Syeikh Ahmad Abbadi. (ISNU/MediaIndonesia)

Syekh Muhammad Zainuddin Al-Bawean, Pendekar Islam Nusantara di Mekkah



Syekh Muhammad Zainuddin Bawean atau al-Baweani adalah salah seorang ulama keturunan Pulau Bawean, Kabupaten Gresik, Jawa Timur, yang menjadi pengajar di Masjidil Haram, Makkah.

Penulis sejumlah kitab ini juga dikenal sebagai salah seorang penyebar gagasan kebangsaan Indonesia dan Islam Nusantara di kalangan para santri dan mahasiswa di Madrasah Darul Ulum Makkah al-Mukarramah.

Menurut catatan KH Ahmad Baso seperti dilansir Pesantren Pedia, Syekh Muhammad Zainuddin lahir di Makkah pada tahun 1334 H/1915. Ayahnya adalah Syekh Abdullah bin Muhammad Arsyad bin Ma’ruf bin Ahmad bin Abdul Latif Bawean.

Perjalanan keluarga Syekh Zainuddin di negeri Hijaz diawali oleh kakeknya. Waktu itu orang-orang Bawean banyak yang menjadi perantau untuk tujuan ekonomi maupun untuk kepentingan menuntut ilmu hingga ke Tanah Suci Makkah.

Syekh Muhammad Hasan Asy’ari (wafat sekitar tahun 1921) adalah di antara orang-orang Bawean yang berhasil menjadi ulama dan juga guru besar di Makkah.

Sewaktu kecil Syekh Zainuddin ngaji ke ayahnya, lalu berguru pada ulama-ulama terkenal di Makkah dan Madinah. Di antaranya Syekh Amin al-Kurdi, Syekh Umar Hamdan al-Mahrusi, Syekh Muhammad Baqir al-Jugjawi (asal Yogyakarta), dan Syekh Sayid Muhsin al-Musawa (asal Palembang).

Dia juga nyantri dan belajar di Madrasah al-Fakhriyah, lalu di Madrasah Shaulatiyah pada tahun 1351 H/1932. Pada tahun awal beliau bergabung ke madrasah favorit itu, muncul konflik dan ketegangan di antara guru dan mahasiswa asal Indonesia.

Madrasah Shaulatiyah, yang berdiri di Makkah pada 1875 termasuk madrasah favorit anak-anak Nusantara yang mau mendalami ilmu-ilmu keislaman. Siapa yang ngaji di tempat itu pasti jadi ulama besar di kampungnya.

Beberapa alumni Madrasah Shaulatiyah antara lain KH. Hasyim Asy’ari, pendiri Nahdlatul Ulama, hingga Syekh Musthafa Husein Purba, pendiri Pesantren Musthafawiyah, Tapanuli Selatan, Sumatera Utara.  (ISNU)

Sumber: Berita Gresik

Nadirsyah Hosen: ‘Gus Dur-Gus Mus’ Jimat NU



Buat anda apakah Gus Dur itu seorang Kiai, seorang budayawan atau seorang politisi? Sewaktu menjadi Ketua Umum PB Nahdlatul Ulama (PBNU), Gus Dur juga menjadi Ketua Dewan Kesenian Jakarta (DKJ). Ini membuat sejumlah Kiai sepuh murka, “masak ketua NU ngurusi ketoprak!” Banyak yang kemudian juga terkaget-kaget ketika Gus Dur dengan enteng memimpin Forum Demokrasi dan sering mengeluarkan pernyataan mengkritik Presiden Soeharto. Sulit kemudian untuk memasukkan jimat NU ini ke dalam satu kategori saja. Tambah satu lagi, Gus Dur sangat menggemari musik klasik dan juga jago mengulas pertandingan sepakbola. Belum lagi ia rajin menulis kolom di Tempo dan Kompas. Apalagi kalau sudah ngebanyol, rasanya pelawak beneran seperti Miing Bagito aja kalah lucu sama Gus Dur.

Buat banyak orang, Gus Dur ini manusia paling aneh dalam sejarah pesantren”. Tapi keanehan itu bukan cuma dimiliki Gus Dur sendirian. Misalnya bagaimana anda sekarang memasukkan KH A Mustofa Bisri (Gus Mus) dalam kategori apa? Seorang Kiai yang mengajar kitab kuning dan memberi fatwa? Seorang budayawan karena jago menulis dan membaca puisi? Seorang pelukis? Cerpenis? Kolumnis? Mantan politisi? Kiai kampung karena mengasuh pondok? atau Kiai modern karena pakai gadget dan iPad (dibaca “iped” dg gaya khas Gus Mus saat tampil di Mata Najwa)?

Sebetulnya keanehan kedua beliau itu karena kita sendiri yang aneh, yaitu memaksakan memandang orang hanya dengan satu kategori saja. Kalau seorang masuk kategori Kiai, maka kita akan merasa aneh kalau tiba-tiba Kiai mengulas musik klasiknya Mozart atau lukisan Monalisa-nya Leonardo Da Vinci. Atau misalnya ada anak muda bergaya metal yang ternyata fasih membaca Qur’an. Kita terkejut mendapati kenyataan bahwa kategori yang kita pakai untuk menilai orang lain itu ternyata terlalu sempit atau kaku.

Dengan kategori yang kaku itu pula kita akan bingung misalnya mendapati seorang profesor hukum yang ternyata di rumahnya dia jago masak. Dia tidak menganggap kemampuannya menganalisa pasal dalam undang-undang itu bertentangan dengan kemampuan dia meracik bumbu masakan. Dua-duanya bisa jalan sendiri-sendiri tanpa pernah tertukar antara pasal dan bumbu.
Begitulah kawan…sebenarnya diri kita ini sangat multi fungsi dan dapat berperan sesuai dengan kemampuan dan situasi yang kita hadapi. Dan berbagai peran itu sebenarnya saling terhubung satu sama lain. Nabi Muhammad menyadari hal ini sehingga ketika para sahabat bertanya mengenai amalan apa yang paling utama, Nabi memberi jawaban berbeda-beda tergantung konteks dan tergantung siapa yang bertanya.

Dalam satu kesempatan Nabi SAW menjawab bahwa amalan yang paling utama itu beriman kepada Allah; di lain kesempatan Nabi menjawab “al-shalatu ala waqtiha”; atau pada waktu lain Nabi menjawabnya dengan “zikrullah”. Nabi pernah pula menjawab pertanyaan yang sama dengan ” Engkau bersedekah makanan dan mengucapkan salam kepada yang kau kenal dan yang tidak kau kenal.” Suatu waktu Nabi menjawab “berjihad di jalan Allah” dan juga ada riwayat lain dimana Nabi mengatakan “Sebaik-baik kalian adalah yang belajar dan mengajarkan Al Qur’an”.

Begitulah kawan…Nabi Muhammad tahu bahwa kondisi kita berbeda-beda sesuai dengan perbedaan peran dan kapasitas kita. Maka banyak sekali pilihan amal yang bisa kita lakukan. Tidak perlu memaksa orang lain mengikuti amalan kita; atau mencemooh karena orang lain memilih prioritas amal yang berbeda dengan kita. Semakin banyak peran yang kita jalankan, semakin banyak ladang amal yang bisa kita kerjakan.

Sayup-sayup terdengar lantunan lagu Chrisye, “Aku tak akan bisa menjadi seperti yang Engkau minta…” Dan hatiku berdesir menjawab, “Tapi Aku tak pernah meminta apa-apa…cukup menjadi dirimu sendiri, wahai hamba Allah!”. (ISNU)

Sumber: Akun Facebook Nadirsyah Hosen

Pemuda NU Harapan Bangsa



Pemuda adalah acuan baik buruknya Negara di masa yang akan datang, pemuda juga yang akan memberikan inovasi penting dalam pembangunan suatu bangsa yang benar – benar tangguh dalam mengikuti perkembangan zaman. Pemuda dikatakan sukses dikala ia mampu menciptakan sesuatu yang berharga untuk dimanfaatkan orang lain , bisa menjadi teladan bagi orang lain dan bisa menempatkan sesuatu sesuai dengan kapasitasnya. Sumbangan penting dari pemuda amat diperlukan demi kemajuan bangsa Indonesia, tidak hanya dari segi intelektualitasnya akan tetapi moral dan etika jauh lebih bermakna. Sekarang ini banyak orang pintar, namun bathinnya kosong akan hidayah dari Allah SWT , sehingga kepintarannya cenderung berbuah ketamakan dan keserakahan.
Dalam masa muda suatu kewajaran apabila rasa keingintahuannya tinggi. Setiap pemuda pasti mempunyai ambisi yang kuat untuk mewujudkan apa yang menjadi keinginannya. Terkadang menghalalkan berbagi cara untuk bisa mendaptkannya. Sebatas keinginannya tidak bertentangan dengan syariat agama tidak menjadi masalah, akan tetapi kalau sudah menyeleweng apalagi menyangkut masalah aqidah maka harus segera diluruskan. Dari sini setiap pemuda harus mempunyai filter yang kuat berupa pemahaman terhadap ilmu agama, pergaulannya dengan orang – orang shalih dan peningkatan pemahaman terhadap lingkungan yang dihadapi. Sekarang ini, tak sedikit pemuda Indonesia yang terjerumus kedalam pergaulan bebas, sehingga bisa dikatakan kualitas pemuda kita masa kini diambang kesurutan akan moral dan etika. Tantangan semacam ini, mendobrak dunia pesantren untuk membuka cakrawala yang luas guna meminimalisir masalah yang berkaitan dengan pemuda Indonesia.
Dalam dunia pesantren , kita dapat menemui sesuatu yang semula tidak kita dapatkan ditempat dimana kita berasal, di pesantren kita kita menemui makna keikhlasan, kejujuran, kemandirian dan jiwa sosial kemasyarakatan. Sikap itulah yang nantinya diterapkan dalam kehidupan bermasyarakat. Tidak hanya ilmu yang kita dapatkan, keberkahan do’a kyai dan para ulama’ pesantren menjadi pendorong dalam thalabul ‘ilmi. Pesantren mengajarkan ihtiyar bathiniyah yang dalam bahasa pesantren istilahnya tirakat, diantaranya; puasa sunah, sholat malam dan juga amalan – amalan dzikir yang dijazahkan oleh kyai. Hal ini tidak bisa dipungkiri lagi, jika santri yang kekuatan tirakatnya tinggi sebagian besar menemui kesuksesan dalam hidupnya. Dalam lingkup kenegaraan, tak sedikit alumni pondok pesantren berkiprah dalam pengabdiannya terhadap Negara. Ada yang menjadi presiden, menteri, DPR, bupati dan masih banyak lagi dari kalangan santri yang berperan didalamnya. Tidak hanya dalam lingkup kenegaraan saja , diberbagai bidang santri juga banyak berperan. Ada yang menjadi penulis, sutradara film, tenaga teknik , dan lain – lain.
Nahdlatul Ulama’ banyak memberikan banyak sumbangsih terhadap negeri Indonesia. Keberadaan pesantren yang berada dilingkupnya tak dapat diragukan lagi. Organisasinya berdiri untuk semua golongan. Di setiap tingkatan terdapat lingkup, di antaranya; IPNU , IPPNU, Fatayat, GP Anshor, Muslimat dan masih banyak lagi lainnya yang menunjukkan bahwa NU tak sepi akan generasi dan kiprahnya bersifat global sesuai dengan lambangnya. Hal ini menjadi tekad NU dengan keidentikannya pesantren mendidik generasi yang mampu meneguhkan islam di Nusantara.
Pemuda adalah acuan baik buruknya Negara di masa yang akan datang, pemuda juga yang akan memberikan inovasi penting dalam pembangunan suatu bangsa yang benar – benar tangguh dalam mengikuti perkembangan zaman. Pemuda dikatakan sukses dikala ia mampu menciptakan sesuatu yang berharga untuk dimanfaatkan orang lain , bisa menjadi teladan bagi orang lain dan bisa menempatkan sesuatu sesuai dengan kapasitasnya. Sumbangan penting dari pemuda amat diperlukan demi kemajuan bangsa Indonesia, tidak hanya dari segi intelektualitasnya akan tetapi moral dan etika jauh lebih bermakna. Sekarang ini banyak orang pintar, namun bathinnya kosong akan hidayah dari Allah SWT , sehingga kepintarannya cenderung berbuah ketamakan dan keserakahan.
Dalam masa muda suatu kewajaran apabila rasa keingintahuannya tinggi. Setiap pemuda pasti mempunyai ambisi yang kuat untuk mewujudkan apa yang menjadi keinginannya. Terkadang menghalalkan berbagi cara untuk bisa mendaptkannya. Sebatas keinginannya tidak bertentangan dengan syariat agama tidak menjadi masalah, akan tetapi kalau sudah menyeleweng apalagi menyangkut masalah aqidah maka harus segera diluruskan. Dari sini setiap pemuda harus mempunyai filter yang kuat berupa pemahaman terhadap ilmu agama, pergaulannya dengan orang – orang shalih dan peningkatan pemahaman terhadap lingkungan yang dihadapi. Sekarang ini, tak sedikit pemuda Indonesia yang terjerumus kedalam pergaulan bebas, sehingga bisa dikatakan kualitas pemuda kita masa kini diambang kesurutan akan moral dan etika. Tantangan semacam ini, mendobrak dunia pesantren untuk membuka cakrawala yang luas guna meminimalisir masalah yang berkaitan dengan pemuda Indonesia.
Dalam dunia pesantren , kita dapat menemui sesuatu yang semula tidak kita dapatkan ditempat dimana kita berasal, di pesantren kita kita menemui makna keikhlasan, kejujuran, kemandirian dan jiwa sosial kemasyarakatan. Sikap itulah yang nantinya diterapkan dalam kehidupan bermasyarakat. Tidak hanya ilmu yang kita dapatkan, keberkahan do’a kyai dan para ulama’ pesantren menjadi pendorong dalam thalabul ‘ilmi. Pesantren mengajarkan ihtiyar bathiniyah yang dalam bahasa pesantren istilahnya tirakat, diantaranya; puasa sunah, sholat malam dan juga amalan – amalan dzikir yang dijazahkan oleh kyai. Hal ini tidak bisa dipungkiri lagi, jika santri yang kekuatan tirakatnya tinggi sebagian besar menemui kesuksesan dalam hidupnya. Dalam lingkup kenegaraan, tak sedikit alumni pondok pesantren berkiprah dalam pengabdiannya terhadap Negara. Ada yang menjadi presiden, menteri, DPR, bupati dan masih banyak lagi dari kalangan santri yang berperan didalamnya. Tidak hanya dalam lingkup kenegaraan saja , diberbagai bidang santri juga banyak berperan. Ada yang menjadi penulis, sutradara film, tenaga teknik , dan lain – lain.
Nahdlatul Ulama’ banyak memberikan banyak sumbangsih terhadap negeri Indonesia. Keberadaan pesantren yang berada dilingkupnya tak dapat diragukan lagi. Organisasinya berdiri untuk semua golongan. Di setiap tingkatan terdapat lingkup, di antaranya; IPNU , IPPNU, Fatayat, GP Anshor, Muslimat dan masih banyak lagi lainnya yang menunjukkan bahwa NU tak sepi akan generasi dan kiprahnya bersifat global sesuai dengan lambangnya. Hal ini menjadi tekad NU dengan keidentikannya pesantren mendidik generasi yang mampu meneguhkan islam di Nusantara.

Kisah Tukang Es dan Kecintaan Kepada Nabi Muhammad SAW

Pada suatu hari ada seorang tukang es yang belum pernah mengenal yang namanya maulid nabi, setiap hari dia berjualan es dari kampung ke kampung untuk menjual esnya namun es yang dijualnya hanya laku sedikit, pada suatu hari dia melihat ada banyak orang berkumpul di suatu masjid yang sedang mengadakan maulid dan dia putuskan untuk berdagang disitu (niatnya bukan untuk mengahdiri maulid akan tetapi hanya untuk menjual esnya saja) selesai acara maulid para jamaah membeli esnya sehingga habis semua dagangannya.

Besok harinya dia mencari lagi tempat yang mengadakan maulid, dengan niat yang sama yaitu hanya untuk menjual es bukan untuk mengadakan maulid. selesai acara esnya habis terjual. dan begitu seterusnya, hingga dia menyadari, sebenarnya apa yang sedang orang-orang itu lakukan yach? dalam hati dia bertanya. dia mencoba tidak hanya ingin menjual esnya tapi juga dia ingin tau apa itu maulid. hatinya mulai tersentuh dengan untaian kata yang indah dari maulid nabi Muhammad saw.

Keesokan harinya dia mencari lagi tempat yang mengadakan maulid untuk kali ini niatnya adalah menghadiri maulid nabi. begitu seterusnya, sampai suatu hari sehabis acara maulid nabi Muhammad SAW dia tidak menjual dagangannya akan tetapi membagikannya kepada jamaah yang menghadiri maulid. setiap hari dia mencari tempat yang mengadakan maulid dan membagikan dagangannya kepada para jamaah dan begitu seterusnya. sampai suatu ketika orang-orang bertanya kepada si tukang es “tukang es kenapa ente selalu memberikan es gratis emangnya ente ga rugi?” tukang es menjawab ” Saya ingin menghormati para tamu rasulullah tapi saya hanyalah tukang es, makanya saya kasih gratis es yang saya punya” kemudian dalam hati, dia berniat bahwa tahun depan dia ingin mengadakan maulid nabi di rumahnya, sudah dia putuskan. Kemudian setiap hari dia berdagang dan keuntungannya di bagi dua yang pertama untuk modalnya dan kedua untuk acara maulidnya.

Hari demi hari bulan demi bulan pun terlewati sampai tiba tepat di bulan maulid lagi tgl 12 Rabiul awal, kemudian dia persiapkan kebutuhan untuk acara maulid dengan membeli makanan dan buah-buahan dan dia juga siapkan makanan untuk 100 orang. sore harinya sehabis ashar dia dan pergi kerumah tetangga-tetangganya untuk mengundang acara maulid yang akan dilaksanakan di rumahnya, sehabis isya dia menunggu para jamaah tapi belum juga datang, sampai jam 9 malam belum juga datang sampai jam 11 malam pintu -pintu sudah mulai tertutup tapi jamaah belum juga datang. kemudian dia putuskan untuk mengadkan maulid bersama keluarganya saja yaitu 2 anaknya dan istrinya. di awali dengan pembacaan maulid Yaa Rabbi Shalli ala Muhammad Yaa Rabbi Sholli alaihi wasallim saat itu air mata mereka keluarga tukang es mulai menetes membasahi pipi. begitu seterusnya sampai pembacaan maulid pun air matanya turun begitu derasnya sambil dia berfikir bingung dalam hati, dia berusaha untuk mengundang para tamu rasulullah tapi tak ada satu pun yang datang. sampai pembacaan sholawat pun tiba dan berdiri, dia sudah tidak kuat lagi sambil menetesnya air mata dia membaca sholawat:

Yaa Nabi salam alaika Yaa Rasul salam alaika Yaa Habib salam alaika Yaa Rasulullah sholawatullah alaika. tiba-tiba datang ribuan orang kerumahnya dengan pakaian putih dan bersorban putih dan berbaris dan di ujung jalan rumahnya ada sesosok orang yang berkharisma, berwibawa dan dengan cahaya di wajahnya jalan menuju rumahnya kemudian si tukang es bertanya padanya “siapakan engkau wahai tuan? aku belum pernah melihat engkau wajahmu begitu bersinar terang dan tubuhmu sangat wangi apakah warga baru disini ?” Kemudian Nabi Muhammad SAW menjawab “Namaku selalu kau sebut-sebut dalam maulid dan sholawat, hatimu selalu menyebut namaku. diamanapun dan kapan pun. kerinduanmu pada ku membuat kamu cinta dengan diriku” kemudian si tukang es tersadar bahwa orang tersebut adalah nabi Muhammad SAW.

Subhanallah, selesai acara tersebut si tukang es menjadi begtu rindu dengan nabi Muhammad hingga dia jatuh sakit, karna sakitnya itu dan dia berwasiat kepada istri dan kedua anaknya bahwa setiap tahun rumahnya harus mengadakan maulid walaupun kecil-kecilan.
Subhanallah cerita tukang es benar-benar membuat saya terharu jujur saat waktu saya mendengarkan ceramah tantang tukang es ini air mata saya langsung keluar, dalam penulisan artikel ini pun air mata saya pun ingin bercucuran keluar ingin rasanya saya menangis sekeras-kerasnya tak sanggup saya menulis artikel ini. begitu sedihnya kisah tukang es ini dengan kecintaan kepada Rasulullah sampai Allah membukakan sebuah keghaiban sehingga Rasullah SAW datang ke rumah tukang es tersebut. Semoga kisah ini bisa dijadikan teladan untuk kita semua. Aamiin.. (ISNU)

Sumber: Facebook Habib Yahya Assegaf
Peristiwa Isra' dan Mi'raj bagi umat Islam menjadi fenomena sejarah yang sungguh luar biasa, terjadi satu tahun sebelum hijrah (10 tahun dari masa diutusnya Sayyid Muhammad sebagai Nabi) pada malam Isnain tanggal 27 Rajab.

Saat Nabi sendirian tidur di rumah Siti Ummi Hani (saudara kandung Sayyidina Ali) datanglah Jibril untuk memintanya berjumpa Allah. Ada yang menyebutkan Nabi berada di sekitar Masjidil Haram sekitar Hijr Ismail dengan ditemani dua sahabatnya Hamzah dan Ja'far bin Abi Thalib).

Peristiwa inj begitu cepat dimana dalam waktu semalam menyelesaikan perjalanan jalur darat dan jalur udara. Zona destinasi isra' dan mi'raj adalah titik-titik sejarah Nabi sebelum Muhammad. Ini menunjukkan bahwa peristiwa itu adalah bagian dari mu'jizat.

Menguji keimanan orang Islam dapat dilakukan dengan bertanya percaya atau tidak terhadap Isra’ Mi’raj. Saya sangat setuju ini peristiwa luar biasa yang hanya bisa didekati dengan keimanan dan bisa dilakukan dengan saintifikasi Isra’ Mi’raj. Dan jasad Nabi yang bergerak dalam peristiwa ini bersamaan dengan ruhnya yang telah menyatu.

Merenung Sejenak

Tidak terasa bahwa bulan Rajab 1437 H sudah memasuki tanggal 27. Tanggal yang indah dan bersejarah bagi umat Islam karena Rasulullah Muhammad mendapat bonus rihlah ilahiyyah yang diabadikan dengan nama Isra’ Mi’raj.

Syekh Bisri Musthofa Rembang dalam kitab Tiryaqil Aghyar fi Tarjamati Burdatul Mukhtar menjelaskan bahwa waktu yang ditempuh dalam isra' itu sangat singkat dan mi'raj itu seperti qaba qausaini.

Syi'ir yang diterjemah dalam bahasa Jawa dengan tulisan pegon oleh Mbah Bisri ini adalah:

سريت من حرم ليلا الى حرم ٭ كما سرى البدر في داج من الظلم

وبتّ ترقى الى ان نلت منزلة ٭ من قاب قوسين لم تدرك ولم ترم

Dalam catatan terjemahan ini, Mbah Bisri menyampaikan indahnya kata qaba qausaini yang secara lahiriyah bermakna "ujungnya dua pucuk". Padahal ibrah ini adalah terbalik, yang harusnya qaba qausi, jadi artinya dua pucuk.

Ada empat kitab yang secara spesifik menjelaskan Isra’ Mi’raj: 1) Qishshah Mi'rajin Nabi karya Syekh Najmudin Al Ghoidzi: 2) Tashilul Ghiba min Qissatil Isra' wa Mi'rajin Nabi karya Syekh Sahli bin Salim Assamarani: 3) I'anatul Muhtaj fi Qishshatil Isra' wal Mi'raj karya Syekh Ahmad Abdul Hamid Al Qandali: 4)Nurus Siraj fi Bayanil Isra' wal Mi'raj karya Syekh Ahmad Fauzan bin Zain Muhammad bin Muhamma Zain Arrambani.

Dalam kitab itu dijelaskan secara rinci bagaimana proses isra' dan mi'raj itu terjadi. Sehingga etnografi Isra’ Mi’raj terasakan dengan baik dan umat Islam di masa kini masih menikmati kemukjizatan Nabi Muhammad.

Syekh Ahmad Abdul Hamid Kendal mengurai terlebih dahulu keutamaan bulan Rajab sebagai bulan mulia diantara dua belas bulan lainnya. Sebab di bulan Rajab itu banyak peristiwa sejarah, termasuk selamatnya kapal Nabi Nuh.

Lokasi dimana Nabi singgah saat isra' secara detail disebutkan oleh Mbah Ahmad Abdul Hamid. Termasuk saat mi'raj juga secara rinci dijelaskan. Dimana alasan mi'raj oleh Mbah Ahmad disebut adanya kecemburuan antara langit dan bumi yang saling "poyok-pinoyok" (Jawa: mengejek satu dan lainnnya).

Sebab bumi merasa paling mulia karena dihuni oleh Nabi Muhammad. Langitpun akhirnya minta pada Allah agar Nabi Muhammad diperkenankan singgah kesana. Dan itulah yang dikabulkan Allah dalam peristiwa mi'raj.

Syekh Sahli Semarang juga menjelaskan kisah yang sama. Bahwa peristiwa isra' dan mi'raj berjalan sangat cepat dengan segudang kisah yang diceritakan. Kepergian Nabi tengah  malam dan selesai menjelang subuh sudah berada kembali ke Kota Makkah.

Bahkan proses kehadiran Nabi di rumah Ummi Hani hingga Nabi langsung menuju Masjidil Haram untuk mengisahkan apa yang dialaminya juga disinggung dalam kitab Tashilul Ghiba.

Syekh Ahmad Fauzan Rembang menyinggung bahwa peringatan Isra’ Mi’raj itu diperingati dengan cara yang berbeda-beda sesuai dengan kebiasan masyarakat. Termasuk cara mengkaji Isra’ Mi’raj disebutkan ada tiga model: modern, sederhana dan kolot.

Ini menunjukkan bahwa kisah Isra’ Mi’raj itu akan tetap menarik dikaji dari sisi apapun. Sebab itu adalah peristiwa langka yang diabadikan dalam surat Al Isra ayat 1 dan surat Annajm ayat 1-17.

Maka wajar bagi mereka yang tidak mengikuti jejak Nabi tidak akan percaya dengan kisah ini. Sebagaimana disebutkan oleh Syekh Najmuddin Al Ghoizi bahwa orang yang tidak beriman, tidak akan percaya sebagaimana Abu Jahal dan orang kafir Quraisy yang menyebut Nabi sebagai tukang sihir (faramauhu bis sihr).

Jika zaman dahulu sudah ada kelompok yang kufur terhadap Isra’ Mi’raj, maka peristiwa yang sudah hampir 14 abad berlalu itu masih ada yang tidak percaya itu wajar. Dan pasti, mereka yang tidak percaya adalah bukan orang yang beriman. Sedangkan bagi Muslim yang beriman, wajib percaya adanya Isra’ Mi’raj.

Dari kisah Isra’ Mi’raj ini ada dua pesan yang sangat filosofis. Pertama, bahwa isra' dan mi'raj ini menjawab kecemburuan bumi dan langit. Maka semua umat akan menyaksikan betapa kompaknya bumi-langit yang ramah kepada manusia yang beriman.

Kedua, peristiwa Isra’ Mi’raj adalah napak tilas Nabi kepada Senior Nabi dengan ziarah plus visualisasi umat dahulu dan masa mendatang. Oleh sebab itu, zaman sekarang yang terpenting bagi generasi muda adalah sowan kepada ulama dan tokoh agama dan berziarah ke makam auliya'. Sebab kisah isra' dan mi'rah mencontohkan itu.

Dan yang paling mulia adalah, para Senior Nabi sangat sayang kepada Muhammad dan umatnya dalam memberikan ilmu negosiasi ketuhanan, dimana shalat yang asalanya 50 menjadi 5 waktu. Itulah hikmah dari berziarah atau sowan serta tawadlu' kepada Senior Nabi. Wallahu a'lam.

Penulis adalah Mahasiswa Program Doktor & Dosen UIN Walisongo

Sumber: nu.or.id

Abuya Muhtadi "Mufti Syafi'iyyah dari Banten"


KH Abuya Muhtadi Dimyathi Al-Bantany yang bernama kecil Ahmad Muhtadi dilahirkan di Kampung Cidahu Desa Tanagara Kecamatan Cadasari Kabupaten Pandeglang Provinsi Banten dari pasangan KH Abuya Dimyathi Bin KH M. Amin Al-Bantany dan Nyai Hj. Asma' Binti KH ‘Abdul Halim Al-Makky pada 26 Desember 1953 M / 28 Jumadal Ula 1374 H. <>
Pendidikan agama awal diperolehnya waktu masih sekolah di SR Tanagara dari ibundanya, karena ayahandanya Abuya Dimyathi Amin pada waktu itu masih Siyahah (berkelana) di Pondok Pondok Pesantren di Nusantara sekaligus bersilaturrahim, bertabarruk dan tholab pada para ulama sepuh kala itu.
Setelah tamat SR pada tahun 1965 M ia diajak oleh ayahandanya untuk ikut Siyahah sambil terus menerus digembleng pendidikan agama dalam pengembaraan selama 10 tahun, dan pada tahun 1975 M. Ia mengikuti Ayahandanya Iqomah di Kampung Cidahu Desa Tanagara Kec. Cadasari Kab. Pandeglang Banten sambil merintis Pondok Pesantren.
Meski telah memimpin pesantren, bukan berarti ia berhenti digembleng oleh ayahandanya, karena ia masih terus menerus dihujani lautan ilmu oleh ayahandanya sampai akhir hayat ayahandanya pada 3 Oktober 2003 M / 7 Sya’ban 1424 H. Walhasil iabadzlul wus’i, mengerahkan seluruh kemampuannya didalam mendalami ilmu agama selama 38 tahun, dan ia berhasil mengkhatamkan banyak Kitab ulama salaf dari berbagai fan (cabang) sampai berulang ulang dan dikaji dengan sistem pendidikan pesantren salaf huruf demi huruf.
Dari fan ilmu tafsir, ia mengkhatamkan Tafsir Ibnu Jarir Ath-Thabary (Tafsir terbesar) dan Tafsir Ibnu Katsir. Dari fan Qiro'ah ia tidak cuma ahli dalam Qiro'ah Sab’ah tapi juga ahli dalam Qiro'ah ‘Asyaroh disamping juga Hafidz Al-Qur'an. Dari fan Ilmu Al-Qur'an Beliau mengkhatamkan Al-Burhan, Al-Itqon dan lain-lain. Dari fan hadits ia mengkhatamkan Kutub As-Sittah, dari fan fiqih ia sampai mengkhatamkan Tuhfatul Muhtaj, Mughnil Muhtaj, Asnal Matholib, dan dari fan-fan lainnya yang ada 14 Fan.
Tidaklah berlebihan kalau ia disebut dengan Mufti Asy-Syafi’iyyah karena sudah mengkhatamkan dan menguasai 4 Kitab pedoman Muta'akhkhirin As-Syafi’iyyah (Tuhfatul Muhtaj, Mughnil Muhtaj, Nihayatul Muhtaj, Asnal Matholib) dan Kitab Raudlatut Tholibin (Pegangan Para Mufti), dan disebut dengan Al-Mutafannin (Orang yang menguasai berbagai Fan Ilmu Agama), dan disebut dengan Al-Musnid karena sudah disahkan untuk mengijazahkan Kitab Sanad Kifayatul Mustafid karangan Syaikh Mahfudz At-Tarmasy, dan disebut dengan Al-Mursyid karena ia juga menguasai 14 fan Thariqah dan menjadi Mursyid Thariqah Asy-Syadziliyyah, dan disebut dengan Syaikhul Masyasikh (Kyainya Para Kyai) karena di setiap hari terutama hari Sabtu, Ahad dan Senin di Majlis Ta’lim ia berkumpul para kiai alim ulama seantero Banten untuk menyerap ilmu agama tingkat tinggi yang ia ajarkan meneruskan Majlis Ta’lim yang diasuh oleh ayahandanya, dan pada saat ini ia membaca dan mengajarkan Kitab Raudlatut Tholibin, Mughnil Muhtaj, Tuhfatul Muhtaj, Nihayatul Muhtaj, Al-Ihkam Fi Ushulil Ahkam, Al-Ghunyah Li Tholibi Thariqil Haq, Ihya Ulumiddin, Shohih Muslim, An-Nasyr Fi Qiro'atil ‘Asyr dll. Dan yang sangat jarang dimiliki oleh orang lain adalah ketajaman Bashirah/Mata Bathin Beliau, karena Beliau adalah seorang Ulama yang ahli tirakat, bahkan semenjak umur 18 tahun sampai sekarang Beliau masih menjalani Shaumuddahri/puasa setiap hari bertahun tahun.
Salah satu fatwanya yang menunjukkan bahwa ia adalah seorang ulama nasionalis adalah fatwanya tentang Pancasila, HTI dan Ormas sejenisnya berikut ini:
Dengan ini saya Abuya Muhtadi Dimyathi (Ketua/Imam M3CB) berfatwa bahwa Pancasila adalah :
قاعدة كلية أقامها من قبلنا لإصلاح من بين سابنج وميروكى
Artinya : Dasar Negara yang bersifat global mencakup keseluruhan komponen bangsa yang dirumuskan dan disahkan oleh tokoh-tokoh sebelum kita untuk kemashlahatan seluruh rakyat NKRI dari Sabang sampai Merauke yang terdiri dari beragam Agama, ras dan suku.
dan juga saya berfatwa bahwa :
ألحاتيئي ومن نحا نحوهم ليس إلا أنهم قوم مسلمون أقاموا في بلدتنا التي قاعدتها فنجاسيلا ويريدون إزالتها محقرين ومهينين بانيها ومدعين بأنهم طاغوت, وذلك نوع من البغي, والبغي كبيرة. فلما كان كذلك فحرام في الجملة                                                                
Artinya : HTI Hizbut Tahrir Indonesia dan ormas-ormas Islam lainnya yang sejalan dengan HTI tiada lain kecuali kaum muslimin yang menetap di negara kita Indonesia yang punya dasar Pancasila dan misi kaum muslimin tersebut adalah menghilangkan Pancasila, mereka juga menghina dan meremehkan tokoh-tokoh perumus dan pengesah Pancasila dan menganggap bahwa tokoh-tokoh perumus Pancasila adalah taghut. Perbuatan seperti itu adalah salah-satu macam  pemberontakan terhadap Negara, padahal memberontak negara itu dosa besar, maka HTI dan ormas-ormas Islam yang sejalan dengan HTI itu hukumnya harom dalam beberapa masalah/situasi dan kondisi.
Demikianlah sekilas biografi KH Abuya Muhtadi Dimyathi Al-Bantany yang penulis ketahui langsung dari beliau aqwaalan wa ahwaalan, semoga kita dapat mengambil hikmahnya. Amiin ya Rabbal ‘Alamiin.
M. Hubab Nafi’ Nu’man, Santri Abuya Muhtadi, Instruktur Nasional Pendidikan Kader Penggerak NU

Sumber: nu.or.id