This is default featured slide 1 title

Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these sentences with your own descriptions.This theme is Bloggerized by Lasantha Bandara - Premiumbloggertemplates.com.

This is default featured slide 2 title

Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these sentences with your own descriptions.This theme is Bloggerized by Lasantha Bandara - Premiumbloggertemplates.com.

This is default featured slide 3 title

Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these sentences with your own descriptions.This theme is Bloggerized by Lasantha Bandara - Premiumbloggertemplates.com.

This is default featured slide 4 title

Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these sentences with your own descriptions.This theme is Bloggerized by Lasantha Bandara - Premiumbloggertemplates.com.

This is default featured slide 5 title

Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these sentences with your own descriptions.This theme is Bloggerized by Lasantha Bandara - Premiumbloggertemplates.com.

Gus Mus Kecam Media Radikal Sebarkan Fitnah Kepada Mufti Sunni Suriah



Kemarin media sindonews mengambil berita pelintiran dari media Zionis Dailymail yang isinya memfitnah Grand Mufti Aswaja Suriah Syaikh Ahmad Badruddin Hassoun bahwa beliau memfatwakan pembantaian pada rakyat Aleppo (padahal redaksi aslinya Grand Mufti berfatwa untuk memerangi para Teroris kriminal yang menyerang Aleppo). Syaikh Hassoun ini adalah seorang ulama moderat yang sangat lembut dan menjunjung toleransi, bahkan ketika salah satu putranya tewas dibunuh teroris ia memberi maaf dengan jiwa besar.

Media-media Takfiri yang sudah terkenal kefasiqannya seperti media radikal portalpiyungan dan lain-lain segera memblow-up berita fitnah tersebut. Tidak perlu heran, karena mereka memang punya spesialisasi dalam menyebar fitnah kepada siapapun, bahkan sang ulama besar Ahlusunnah yang merupakan sahabat Gus Mus dan juga penasihat dekat Presiden Bashar al Assad ini pun tak selamat dari fitnah keji mereka.

 Terima kasih Gus Mus karena sudah angkat bicara membela Syaikh Ahmad Badruddin Hassoun yang difitnah secara keji oleh para Takfiri. Demi Allah, kami merasa lebih aman berdiri bersamamu daripada bersama para Takfiri terkutuk yang tidak bisa hidup tanpa menebar fitnah. (SFA)

Sumber: Akun Fanpage Ahmad Zainul Muttaqin


Denny Siregar, HTI, Khilafah! Banser Kok Dilawan



Sesama muslim itu bersaudara. Begitu jargon yang selalu didengung-dengungkankan kaum gagal nalar ketika mereka merasa tersudutkan. Jargon itu seperti pohon besar tempat mereka berlindung di baliknya dan menari sambil nyanyi khas pelem india.

Buat mereka -komunitas kurang piknik itu- yang dimaksud “Muslim” adalah golongan. Padahal arti muslim itu adalah “orang yang berserah diri kepada Allah”. Kalau mengikuti arti sebenarnya kata ” muslim” itu, maka berat sekali pengertiannya. Mereka ga akan sanggup, jadi lebih baik main klaim drpd sibuk menjalankannya. Memangnya siapa yang sanggup “berserah diri kepada Allah”? Saya aja ngeri kalau meng-klaim bahwa saya “Muslim”. Hiii.. Ga kuat boookk. 


Nah, ketika kata “Muslim” diartikan dengan begitu dangkal, kering dan tanpa makna, maka yang paling instan adalah mengartikannya dalam bentuk golongan. Imam Ali as mengatakan  “Mereka yang akal-nya melemah, kebanggaan dirinya menguat.” Jadi karena tidak paham makna, si berbie tanpa kepala karena sering pucing itu, lebih senang membangga2kan golongan karena itu yg lebih mudah terlihat.

Inilah senjata terakhir mereka ketika mereka tersudut. Terutama pada situasi sekarang, dimana Hizbut Tahrir Indonesia atau HTI sedang disudutkan oleh Banser NU yang “menghajar” ideologi mereka yang anti Pancasila.


Situasi yang panas terjadi di Jember, ketika Banser bangkit dan mencopoti spanduk-spanduk khilafah. Buat Banser, Pancasila adalah harga mati dan siapapun yang mencoba merongrongnya, maka ia harus dihadapi.

Banser vs HTI? Ya melorotlah celana HTI.. 

Lucu juga HTI ini. Mereka sibuk mencela PKI, tapi ideologi mereka yang ingin mengganti Pancasila dengan sistem khilafah, apa bedanya ma PKI? Kalau mereka tetap ngotot untuk mengganti Pancasila dengan khilafah, ya mereka harus terima resiko untuk berhadapan dengan mereka yang menjadikan Pancasila ini sebagai ideologi negara.

Karena itu, tidak usah pakai jargon “sesama muslim bersaudara..” Ini bukan masalah saudara, ini masalah keutuhan NKRI. Penghianat tidak pantas dijuluki sebagai saudara… Mereka adalah musuh dalam selimut. Dan sekarang mereka terang-terangan.

Banser.. Kuangkat secangkir kopi…. LAWAN !

Dan yang berbahaya saat ini kelompok Takfiri, Wahabi semakin gencar menyerang pemerintahan Jokowi yang jelas-jelas berseberangan pandangan politiknya dengan Israel, Saudi dan sebagian Negara barat. Mereka menggunkan segala daya dan upaya untuk kacaukan Indonesia. #SaveIndonesia, #SaveNKRI. (SFA)

Sumber: salafynews.com

Turjuman Al-Mustafid, Tafsir Karya Ulama Aceh Terbit di Turki


Gambar di samping adalah halaman pertama dari naskah kitab tafsir “Turjuman al-Mustafid” karangan Syaikh ‘Abd al-Rauf as-Sinkili al-Jawi, seorang ulama Nusantara asal Aceh di abad ke-12 H/17 M (w. 1105 H/ 1693 M). Naskah ini merupakan edisi cetakan Maktabah Utsmaniyah, Istanbul, dengan tahun cetak 1884 M.
Turjuman al-Mustafid” merupakan kitab tafsir al-Qur’an pertama dan terlengkap yang ditulis di dunia Melayu, dalam bahasa Melayu, dan oleh seorang ulama Melayu-Nusantara (Aceh). Bahasa Melayu adalah lingua-franca yang digunakan di kawasan Asia Tenggara pada masa itu.
Meski demikian, “Turjuman al-Mustafid” sebenarnya lebih merupakan terjemahan (setidaknya resepsi) dari kitab “Tafsir Anwar al-Tanzil wa Asrar al-Ta’wil” atau yang dikenal dengan “Tafsir al-Baidhawi” karangan al-Qadhi al-Baidhawi (w. 685 H/ 1286 M), sebuah kitab tafsir legendaris yang banyak tersebar dan dijadikan rujukan utama di dunia Sunni (di dunia Mu’tazilah ada Tafsir al-Kasysyaf karangan al-Zamakhsyari, w. 538 H/ 1143 M).
Kenyataan di atas ditegaskan oleh tulisan yang terdapat di atas kalimat pembuka “basmalah” pada halaman naskah di atas, yaitu: إنيله تفسير البيضاوي “inilah tafsir al-baidhawi”. Sementara itu, di sampul naskah kitab edisi tersebut, juga terdapat tulisan sebagai berikut:
"ترجمان المستفيد في تفسير القرآن المجيد يغ دترجمهكن دغن بهاس ملايو يغ دأمبيل ستنه معنان درفد تفسير البيضاوي"
(Turjuman al-Mustafid fi Tafsir al-Quran al-Majid yang diterjemahkan dengan bahasa Melayu yang diambil setengah ma’nanya daripada Tafsir al-Baidhawi).
*****
‘Abd al-Rauf as-Sinkili sendiri sezaman dengan Yusuf al-Makassari, ‘Abd al-Syakur al-Bantani, dan ‘Abd al-Muhyi al-Jawi (Pamijahan)—para ulama Jawi (Nusantara) yang sama-sama belajar di Haramayn kepada Syaikh Ibrahim al-Kurani (w. 1101 H/ 1689 M), seorang cendekiawan sentral dunia Islam asal Kurdi yang berkiprah di Madinah.
‘Abd al-Rauf didaulat sebagai qadi (hakim agung) sekaligus mufti Kerajaan Aceh di masa pemerintahan Ratu Shafiyatuddin dan Ratu Kamalatuddin. Ia banyak mengarang kitab dalam pelbagai bidang ilmu keislaman. Mayoritas karya-karya tersebut, meski menggunakan judul berbahasa Arab, namun isinya ditulis menggunakan Bahasa Melayu aksara Arab. “Turjuman al-Mustafid” adalah karya al-Sinkili yang paling populer.
Tahun cetak naskah “Turjuman al-Mustafid” pada 1884 M sekaligus tempat dicetaknya di Istanbul, setidaknya menunjukkan beberapa hal penting.
Pertama, kitab tersebut terus digunakan sebagai kitab acuan dan pegangan tafsir al-Qur’an oleh masyarakat Muslim Nusantara selama berabad-abad lamanya (dikarang di medio abad ke-17 M, dan dicetak di akhir abad ke-19 M). Sebelum dicetak di Istanbul, kitab tersebut terlebih dahulu diedit oleh tiga orang ulama Nusantara asal Pattani dan Kelantan, yaitu Ahmad al-Fathani, Idris al-Kalantani, dan Dawud al-Fathani.
Kedua, kitab tersebut dicetak di Istanbul, ibu kota Kekhilafahan Islam. Besar kemungkinan kitab tersebut juga terdistribusikan sekaligus menjadi pegangan para santri asal Nusatara yang tengah belajar di Mekkah-Madinah (Hijaz), Kairo (Azhar), dan Istanbul. Keempat kota itu pada masa tersebut masih tersatukan sebagai kota-kota provinsi Kekhalifahan Usmaniyah.
Ketiga, masih kuatnya jaringan intelektual Islam antara Nusantara, Haramayn, Kairo, dan Istanbul pada masa itu (abad ke-19 M). Pada masa al-Sinkili (abad ke-17 M), mahaguru ulama Nusantara di Haramayn adalah Syaikh Ibrahim al-Kurani, maka di masa dicetaknya kitab tersebut (abad ke-19 M), mahaguru ulama Nusantara di Haramayn adalah Syaikh Ahmad Zaini Dahlan dan Syaikh Nawawi al-Bantani, sementara di Kairo adalah Syaikh Ibrahin al-Baijuri (sayap tradisionalis) dan Syaikh Muhammad Abduh (sayap modernis). Sayangnya, jaringan intelektual Nusantara-Istanbul pada masa itu masih belum terlacak. (A. Ginanjar Sya’ban)

Sumber: nu.or.id

'Wajah Nusantara' Esok Hari



(1) ‘Ibu Sejarah’ Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI) rakyat dari ratusan Keraton-Keraton di Kepulauan Nusantara, serta seluruh ummat manusia yang menghuni hamparan Bumi Nusantara – yang kemudian menyebut dirinya Bangsa Indonesia.

(2) ‘Bapak Sejarah’ NKRI adalah mozaik Keraton-Keraton se-Nusantara yang pada momentum surutnya penjajahan Belanda merelakan dirinya untuk melebur menjadi sebuah kesatuan dan ‘melantik’ ‘Putra Sejarah’ mereka yang bernama NKRI dan Bangsa Indonesia.

(3) Bangsa Indonesia secara resmi harfiah adalah bangsa yang lahir pada 17 Agustus 1945, tetapi secara substansial-historis adalah bangsa yang melahirkan Kutai, Mataram Hindu, Sriwijaya, Medang, Kahuripan, Jenggala, Kediri, Singosari, Majapahit, Padjajaran, Samudra Pasai, Demak, Pajang, Tanjungpura, Mataram Islam, Gowa, Bone, Ternate, Tidore, Bacan, Darmasraya, Pagaruyung, Cirebon, Banten, Martapura, Bendahulu, Klungkung, Bima dll. Itu hanya yang dikenal: bisa jadi bangsa kita ber-induk jauh lebih tua dari yang tercatat oleh sejarah. Bahkan belum bisa dipastikan bahwa Induk Bangsa kita ‘harus’ lebih muda dari Nabi Ibrahim AS (yang anak turun beliau memegang kekuasaan dan keuangan global dunia abad 20-21 sekarang ini). Bahkan belum bisa dibantah bahwa Induk Bangsa kita lebih tua dibanding Nabi Nuh AS.

(4) Kita yang berkumpul dalam Maulid Agung Rasulullah Muhammad SAW di Kesultanan Kadriah Pontianak malam ini adalah sekaligus ‘Ibu’, ‘Bapak’ dan ‘Anak’. Salah satu perjuangan kita adalah mengupayakan dan memastikan bahwa kita bukan Bapak-Ibu yang sok berjasa dan ingin mengambil kekuasaan kembali. Sambil mengusahakan sikap bahwa kita bukan Anak durhaka, yang menjalankan kehidupan dengan membuang Ibu-Bapaknya, yang ‘nikah’ dengan ‘Dewi Demokrasi’ untuk menjadi budak dan jajahannya secara bodoh.

(5) NKRI dibangun atau disangga bangunannya oleh Lima Pilar:
Rakyat
Angkatan Bersenjata
Kaum Intelektual
Kekuatan Adat
Kekuatan Agama
Orla dipimpin kekuasaan Pilar-3 berpusat pada Bung Karno.

Orba dikuasai oleh Pilar-2 dengan mendayagunakan secara aktif Pilar-3, mengekspoitasi secara terbatas Pilar-4 dan memanipulasi Pilar-5.

Era Reformasi dikuasai oleh Pilar-3 yang berpusat pada Parlemen, menganak-tirikan Pilar-2, dan belum memiliki kecerdasan sejarah untuk mengakomodasikan Pilar-4, serta meneruskan eksploitasi dan manipulasi atas Pilar-5.

Kita sedang berada di depan pintu gerbang sejarah untuk mempersatukan kembali “Ibu Bapak Anak” itu dengan perenungan dan kecerdasan dari tingkat sangkan-paran penciptaan, teologi, filosofi, pelahiran pemahaman sosial, hingga ke konstitusi tentang ‘Wajah Nusantara’ esok hari.

(6) Mulai saat ini hingga 7-8 tahun ke depan merupakan final ujian Tuhan dan sejarah bagi Bangsa Besar Induk sangat banyak bangsa-bangsa di muka bumi, untuk melahirkan kembali “Garuda” yang perkasa, indah dan arif, untuk Bangkit pada 100 tahun kedua, atau hancur total di puncak derita.

Shollu ‘ala Muhammad!

Muhammad Ainun Nadjib

Usung Islam Nusantara, PBNU Helat Pertemuan Tokoh Islam Moderat Dunia



Sedikitnya ada  45 negara yang akan menghadiri “International Summit of The Moderate Islamic Leader” (ISOMIL) di Jakarta pada 9-11 Mei 2016.

“Alhamdulillah sudah ada kabar dari 45 negara yang mengonfirmasikan kehadirannya,” kata salah seorang penggagas ISOMIL, Wakil Ketua Umum Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU) Maksum Machfoedz, di Jakarta, Sabtu (30/4).

Ia menjelaskan bahwa ISOMIL adalah tindak lanjut dari Konferensi Tingkat Tinggi Luar Biasa Organisasi Kerjasama Islam (OKI) di Jakarta beberapa waktu lalu. “Kalau OKI itu para kepala negara atau kepala pemerintahan, sedangkan ISOMIL wadah pertemuan para pemimpin atau tokoh Islam moderat,” ujar Maksum.

Bahkan sejumlah utusan dari Maroko mengaku sudah tidak sabar ingin menghadiri acara itu. “Mereka ingin mendengar ceramah tentang Islam Nusantara sekaligus melihat implementasinya di Indonesia,” kata guru besar Fakultas Teknologi Pertanian Universitas Gadjah Mada itu.

ISOMIL akan dibuka Presiden Joko Widodo di Jakarta Convention Center, Senayan, Senin (9/5), dan ditutup oleh Wakil Presiden Jusuf Kalla di tempat yang sama keesokan harinya.

Kegiatan yang ditujukan sebagai bagian dari ikhtiar untuk mengatasi ancaman terorisme dan radikalisme itu akan menghadirkan sejumlah pembicara seperti Ketua Umum PBNU Said Aqil Siroj, Rais Aam PBNU Maruf Amin, Menko Polhukam Luhut Binsar Panjaitan, Menlu Retno L.P. Marsudi, Kepala BIN Sutiyoso, dan Ketua OJK Muliaman Hadad.

Juga ada Direktur Pusat Riset Asimetris dan Kajian Ancaman Universitas Pertahanan Nasional Swedia Dr Magnus Ranstrop, Pakar ISIS dari Universitas Wina Australia Dr Nico Prucha, mantan Grand Mufti Al Azhar Dr Syeikh Ali Gomaa, dan Presiden Liga Muhammadiyah Ulama Maroko Syeikh Ahmad Abbadi. (ISNU/MediaIndonesia)

Syekh Muhammad Zainuddin Al-Bawean, Pendekar Islam Nusantara di Mekkah



Syekh Muhammad Zainuddin Bawean atau al-Baweani adalah salah seorang ulama keturunan Pulau Bawean, Kabupaten Gresik, Jawa Timur, yang menjadi pengajar di Masjidil Haram, Makkah.

Penulis sejumlah kitab ini juga dikenal sebagai salah seorang penyebar gagasan kebangsaan Indonesia dan Islam Nusantara di kalangan para santri dan mahasiswa di Madrasah Darul Ulum Makkah al-Mukarramah.

Menurut catatan KH Ahmad Baso seperti dilansir Pesantren Pedia, Syekh Muhammad Zainuddin lahir di Makkah pada tahun 1334 H/1915. Ayahnya adalah Syekh Abdullah bin Muhammad Arsyad bin Ma’ruf bin Ahmad bin Abdul Latif Bawean.

Perjalanan keluarga Syekh Zainuddin di negeri Hijaz diawali oleh kakeknya. Waktu itu orang-orang Bawean banyak yang menjadi perantau untuk tujuan ekonomi maupun untuk kepentingan menuntut ilmu hingga ke Tanah Suci Makkah.

Syekh Muhammad Hasan Asy’ari (wafat sekitar tahun 1921) adalah di antara orang-orang Bawean yang berhasil menjadi ulama dan juga guru besar di Makkah.

Sewaktu kecil Syekh Zainuddin ngaji ke ayahnya, lalu berguru pada ulama-ulama terkenal di Makkah dan Madinah. Di antaranya Syekh Amin al-Kurdi, Syekh Umar Hamdan al-Mahrusi, Syekh Muhammad Baqir al-Jugjawi (asal Yogyakarta), dan Syekh Sayid Muhsin al-Musawa (asal Palembang).

Dia juga nyantri dan belajar di Madrasah al-Fakhriyah, lalu di Madrasah Shaulatiyah pada tahun 1351 H/1932. Pada tahun awal beliau bergabung ke madrasah favorit itu, muncul konflik dan ketegangan di antara guru dan mahasiswa asal Indonesia.

Madrasah Shaulatiyah, yang berdiri di Makkah pada 1875 termasuk madrasah favorit anak-anak Nusantara yang mau mendalami ilmu-ilmu keislaman. Siapa yang ngaji di tempat itu pasti jadi ulama besar di kampungnya.

Beberapa alumni Madrasah Shaulatiyah antara lain KH. Hasyim Asy’ari, pendiri Nahdlatul Ulama, hingga Syekh Musthafa Husein Purba, pendiri Pesantren Musthafawiyah, Tapanuli Selatan, Sumatera Utara.  (ISNU)

Sumber: Berita Gresik

Nadirsyah Hosen: ‘Gus Dur-Gus Mus’ Jimat NU



Buat anda apakah Gus Dur itu seorang Kiai, seorang budayawan atau seorang politisi? Sewaktu menjadi Ketua Umum PB Nahdlatul Ulama (PBNU), Gus Dur juga menjadi Ketua Dewan Kesenian Jakarta (DKJ). Ini membuat sejumlah Kiai sepuh murka, “masak ketua NU ngurusi ketoprak!” Banyak yang kemudian juga terkaget-kaget ketika Gus Dur dengan enteng memimpin Forum Demokrasi dan sering mengeluarkan pernyataan mengkritik Presiden Soeharto. Sulit kemudian untuk memasukkan jimat NU ini ke dalam satu kategori saja. Tambah satu lagi, Gus Dur sangat menggemari musik klasik dan juga jago mengulas pertandingan sepakbola. Belum lagi ia rajin menulis kolom di Tempo dan Kompas. Apalagi kalau sudah ngebanyol, rasanya pelawak beneran seperti Miing Bagito aja kalah lucu sama Gus Dur.

Buat banyak orang, Gus Dur ini manusia paling aneh dalam sejarah pesantren”. Tapi keanehan itu bukan cuma dimiliki Gus Dur sendirian. Misalnya bagaimana anda sekarang memasukkan KH A Mustofa Bisri (Gus Mus) dalam kategori apa? Seorang Kiai yang mengajar kitab kuning dan memberi fatwa? Seorang budayawan karena jago menulis dan membaca puisi? Seorang pelukis? Cerpenis? Kolumnis? Mantan politisi? Kiai kampung karena mengasuh pondok? atau Kiai modern karena pakai gadget dan iPad (dibaca “iped” dg gaya khas Gus Mus saat tampil di Mata Najwa)?

Sebetulnya keanehan kedua beliau itu karena kita sendiri yang aneh, yaitu memaksakan memandang orang hanya dengan satu kategori saja. Kalau seorang masuk kategori Kiai, maka kita akan merasa aneh kalau tiba-tiba Kiai mengulas musik klasiknya Mozart atau lukisan Monalisa-nya Leonardo Da Vinci. Atau misalnya ada anak muda bergaya metal yang ternyata fasih membaca Qur’an. Kita terkejut mendapati kenyataan bahwa kategori yang kita pakai untuk menilai orang lain itu ternyata terlalu sempit atau kaku.

Dengan kategori yang kaku itu pula kita akan bingung misalnya mendapati seorang profesor hukum yang ternyata di rumahnya dia jago masak. Dia tidak menganggap kemampuannya menganalisa pasal dalam undang-undang itu bertentangan dengan kemampuan dia meracik bumbu masakan. Dua-duanya bisa jalan sendiri-sendiri tanpa pernah tertukar antara pasal dan bumbu.
Begitulah kawan…sebenarnya diri kita ini sangat multi fungsi dan dapat berperan sesuai dengan kemampuan dan situasi yang kita hadapi. Dan berbagai peran itu sebenarnya saling terhubung satu sama lain. Nabi Muhammad menyadari hal ini sehingga ketika para sahabat bertanya mengenai amalan apa yang paling utama, Nabi memberi jawaban berbeda-beda tergantung konteks dan tergantung siapa yang bertanya.

Dalam satu kesempatan Nabi SAW menjawab bahwa amalan yang paling utama itu beriman kepada Allah; di lain kesempatan Nabi menjawab “al-shalatu ala waqtiha”; atau pada waktu lain Nabi menjawabnya dengan “zikrullah”. Nabi pernah pula menjawab pertanyaan yang sama dengan ” Engkau bersedekah makanan dan mengucapkan salam kepada yang kau kenal dan yang tidak kau kenal.” Suatu waktu Nabi menjawab “berjihad di jalan Allah” dan juga ada riwayat lain dimana Nabi mengatakan “Sebaik-baik kalian adalah yang belajar dan mengajarkan Al Qur’an”.

Begitulah kawan…Nabi Muhammad tahu bahwa kondisi kita berbeda-beda sesuai dengan perbedaan peran dan kapasitas kita. Maka banyak sekali pilihan amal yang bisa kita lakukan. Tidak perlu memaksa orang lain mengikuti amalan kita; atau mencemooh karena orang lain memilih prioritas amal yang berbeda dengan kita. Semakin banyak peran yang kita jalankan, semakin banyak ladang amal yang bisa kita kerjakan.

Sayup-sayup terdengar lantunan lagu Chrisye, “Aku tak akan bisa menjadi seperti yang Engkau minta…” Dan hatiku berdesir menjawab, “Tapi Aku tak pernah meminta apa-apa…cukup menjadi dirimu sendiri, wahai hamba Allah!”. (ISNU)

Sumber: Akun Facebook Nadirsyah Hosen